Musik Klasik Vs. Musik Rock Untuk Janin

OpO - Musik Untuk Janin
Illustration
Ciao,
Banyak yang beranggapan bahwa mendengarkan musik klasik pada janin, dapat membantu pertumbuhan otak si janin. Karena  berita itu banyak sekali ibu hamil yang menaruh headphone dibatas perutnya dan berharap janin dapat rileks dengan mendengarkan musik klasik tersebut. Lalu bagaimana faktanya?

Menurut dokter spesialis kebidanan dan kandungan RSUD Dr Soetomo Surabaya, dr Hari Nugroho SpOG, penelitian ini masih belum terbukti 100 persen. Masih banyak kontroversi yang ditimbulkan. Menurut dokter pemilik akun Twitter @drharinugroho ini, sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan memberikan musik tertentu (dalam hal ini klasik) memberikan peningkatan IQ atau kecerdasan dalam mata pelajaran tertentu.

"Walaupun banyak juga penelitian biologi molekuler yang mendukung ada peningkatan zat-zat tertentu yang kemungkinan berhubungan dengan jumlah sel otak dan hal-hal yang mendukung kecerdasan," imbuhnya.

Pendapat lain disampaikan oleh dokter spesialis anak dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, dr Rini Sekartini, SpA. Menurutnya, stimulasi penting diberikan kepada anak untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Nah, hal ini juga bisa didapat sejak anak masih dalam kandungan lho. Salah satunya dengan memperdengarkan musik klasik.

"Yaitu sejak ibu hamil usia sekitar 20 pekan. Misalnya sekarang sudah banyak dilakukan mendengarkan musik klasik. Musik klasik itu nadanya tinggi sehingga lebih mudah diterima oleh pendengaran janin dan anak di awal-awal kehidupan," tutur dr Rini beberapa waktu lalu.

Suara dengan nada tinggi disebutkan dr Rini dapat lebih mudah diterima oleh pendengaran janin dan bayi. Itu pula alasan mengapa bayi merasa nyaman ketika ibunya menyanyikan lagu sebelum tidur, dibandingkan jika dinyanyikan oleh ayahnya.
 
"Selain musik klasik, mendengarkan musik-musik lain juga tidak apa-apa yang penting ibunya enjoy. Kalau mendengarkan musik klasik karena disuruh dokter dan ibunya tidak nyaman ya sama saja, tidak ada manfaatnya," tutur dr Rini.

Sementara itu, praktisi neurosains terapan, Anne Gracia, menyebutkan bahwa musik yang diperdengarkan pun nyatanya tak melulu harus berupa musik klasik. "Bukan klasiknya yang penting tapi keteraturannya. Musik klasik diputerin dari siang sampai malam, ada keteraturan, sama terus, dan membuat ibu rileks lalu santai, baik untuk anak," ujarnya. Memperdengarkan musik sejak si kecil di dalam kandungan memang dianjurkan. Musik yang diperdengarkan pun nyatanya tak melulu harus berupa musik klasik.

Keteraturan, lanjut Anne, bisa dilihat dari keseluruhan lagu. Berbeda dengan musik klasik, musik rock umumnya terdiri dari berbagai rentang dan dengan adanya unsur kejutan. Padahal, perbedaan ritme dalam lagulah yang dikatakan Anne merangsang keteraturan. Lagu dengan ritme yang teratur menurut Anne memang cenderung membosankan, tapi itulah ciri khas ritme yang teratur. Dengan terbiasa mendengar alunan musik penuh keteraturan, anak bisa memiliki kemampuan mengatur degup jantung yang ia sesuaikan dengan irama lagu.

"Sehingga anak terbiasa teratur dan disiplin nantinya. Jika misal ibu mau merangsang anak menjadi anak yang berani 'menerobos' artinya berani tegas mengambil keputusan mendengarkan varian lagu rock boleh aja," kata Anne. Hadir dalam kesempatan sama, musisi Dian H.P menuturkan memang ibu hamil disarankan untuk mendengarkan musik yang lembut. Bagaimanapun, musik lembut bisa menciptakan suasana yang menenangkan dan membuat ibu rileks. Hal ini pastinya berdampak positif bagi bayi.

"Nggak harus musik klasik. Kayak di daerah gitu ada ibu yang susah menjangkau musik klasik, dengarkan jazz boleh. Atau mau mendengarkan klenengan gamelan gitu juga nggak apa-apa yang penting memang musik lembut dan bisa membuat ibu rileks," kata Dian. 

Dalam kondisi berbadan dua, mendengarkan musik klasik kerap menjadi pilihan para ibu untuk bersantai atau menstimulasi perkembangan otak si kecil. Tapi, bagaimana jika ibu senang mendengarkan musik rock?

Diutarakan Dr Yvonne Bohn, dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Los Angeles, musik dengan aliran keras apalagi diputar dengan volume kencang memang bisa berpotensi mengganggu pendengaran ibu. Tapi, hal tersebut tidak selamanya berlaku pada bayi di dalam kandungan. "Bayi memang bisa mendengar suara di luar tubuh tetapi cairan ketuban cukup menjadi peredam suara yang aman bagi bayi, sehingga pendengaran mereka tetap nyaman," kata Dr Bohn kepada CBS News, dikutip pada Jumat (27/2/2015).

Ia mengumpamakan, apa yang bayi dengar di dalam rahim seperti layaknya seseorang sedang berada di dalam kolam renang dan mendengar suara di luar kolam renang. Memang terdengar ada suara, tetapi bunyi tersebut akan teredam. "Seperti itulah yang didengar bayi ketika ia berada di kandungan ibu. Sehingga, bisa dikatakan mendengarkan musik rock tidak berbahaya bagi bayi, terlebih jika Anda ingin menonton konser musik ketika hamil," lanjut Dr Bohn.

Pada dasarnya, pendengaran janin sudah berkembang saat kandungan berusia 17-18 minggu. Namun, ketika mendengar suara dari luar tubuh ibu, bunyi-bunyian yang 'diserap' bayi tingkat kebisingannya akan menurun 30 desibel, demikian dikatakan spesialis kebidanan dan kandungan Allison Hill, MD. Saat wanita hamil menonton konser, rata-rata tingkat kebisingan suara bisa mencapai 100 desibel. Namun, karena terlindungi oleh cairan ketuban, masa si kecil di dalam kandungan mendengar suara yang teredam menjadi 70 desibel.

"Air ketuban bisa melindungi pendengaran si kecil. Jika Anda ingin nonton konser musik, pastikan tubuh sedang fit dan tetap terhidrasi. Jika suasana terlalu ramai sampai berdesak-desakan, ada baiknya Anda istirahat saja di rumah karena bagaimanapun, dalam kondisi hamil Anda sedang membawa dua nyawa sekaligus," pesan Hill.

Bagaimana menurut anda, apakah ingin mendengarkan musik rock, klasik, atau jazz? 

Ciao,
OpODab,

Banyak yang beranggapan bahwa mendengarkan musik klasik pada janin, dapat membantu pertumbuhan otak si janin. Karena berita itu banyak sekali ibu hamil yang menaruh headphone dibatas perutnya dan berharap janin dapat rileks dengan mendengarkan musik klasik tersebut.

Label: ,

Posting Komentar

[disqus][facebook]

Author Name

{facebook#https://www.facebook.com/OpoWaeDab} {twitter#https://twitter.com/opowaedab} {google-plus#https://plus.google.com/+OpODabBlogspot} {pinterest#https://www.pinterest.com/OpODab/} {youtube#https://www.youtube.com/c/opogendanggendut}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.